Mantan Atlet dan Pelatih Bulutangkis Atik Jauhari Tutup Usia

RAKYAT MERDEKA — Kabar duka datang dari dunia bulutangkis Tanah Air. Atik Jauhari, mantan atlet sekaligus pelatih legendaris Indonesia, meninggal dunia pada Minggu (8/11/2026) dini hari WIB dalam usia 77 tahun.

Atik mengembuskan napas terakhir pada pukul 02.49 WIB di Rumah Sakit Mayapada, Tangerang Kota, setelah mengalami sakit.

“Dunia bulutangkis Indonesia berduka. Salah satu pahlawannya, Atik Jauhari wafat pada Minggu, 8 November 2026, pukul 02.49 WIB di Rumah Sakit Mayapada, Tangerang Kota dalam usia 77 tahun karena sakit,” seperti dilansir dari CNNIndonesia.com, Minggu (8/11).

Rencananya jenazah Atik disemayamkan di Kota Tangerang. Sementara itu, pemakaman akan dilaksanakan di kawasan Cipondoh, Tangerang.

Haryanto Arbi dan Candra Wijaya Sampaikan Belasungkawa

Kepergian Atik Jauhari turut dikonfirmasi oleh Ketua Komunitas Bulutangkis Indonesia, Haryanto Arbi. Ia membenarkan kabar tersebut sekaligus menyampaikan rasa kehilangan atas meninggalnya sosok yang dianggap sebagai salah satu pahlawan bulutangkis nasional.

“Betul, Kak Atik Jauhari wafat Minggu (8/11) pagi ini. Kami keluarga besar KBI ikut berduka cita dan merasa kehilangan dengan berpulangnya salah satu pahlawan bulutangkis nasional tersebut,” kata Arbi.

Ungkapan belasungkawa juga datang dari mantan atlet bulutangkis Indonesia, Candra Wijaya. Ia mengenang Atik sebagai pelatih yang memiliki kemampuan khusus dalam membaca potensi pemain dan membentuk pasangan ganda berprestasi.

“Saya turut berduka cita yang mendalam atas wafatnya Kak Atik. Kak Atik adalah pelatih bertangan dingin yang bekerja dalam senyap, ulet, tekun, dan memiliki instink tajam untuk melihat potensi masing-masing pemain dan kemudian bisa menyatukan menjadi pasangan ganda yang berprestasi. Berkat polesan Kak Atik, saya akhirnya bisa berprestasi di level dunia,” kenang Candra Wijaya.

Perjalanan Karier Atik Jauhari sebagai Atlet

Semasa aktif sebagai pemain, Atik Jauhari memang tidak mencatatkan banyak prestasi besar, baik di tingkat nasional maupun internasional. Meski demikian, ia memiliki sejumlah pencapaian yang menjadi bagian dari perjalanan kariernya.

Salah satunya adalah gelar juara Kejuaraan Nasional 1971 di Yogyakarta. Saat itu, Atik meraih gelar tersebut bersama Christian Hadinata.

Di kancah internasional, Atik juga pernah menjuarai Belgia Terbuka 1973 ketika berpasangan dengan Tatat Budiman.

Meski prestasinya sebagai atlet tidak terlalu menonjol, kontribusi Atik justru semakin terlihat ketika beralih menjadi pelatih. Sosok yang lahir di Bandung pada 14 Agustus 1949 itu kemudian menjadi salah satu figur penting dalam perkembangan bulutangkis Indonesia.

Setelah memutuskan gantung raket, Atik mulai menekuni dunia kepelatihan. Bahkan, ketika baru berusia 25 tahun, ia sudah dipercaya menjadi pelatih tim nasional di pelatnas.

Sepanjang perjalanan kariernya, Atik menangani sejumlah pemain dari generasi berbeda. Ia pernah membina atlet seperti Liem Swie King dan Bobby Ertanto, hingga turut berperan dalam kemunculan pasangan-pasangan ganda tangguh Indonesia pada era 1990-an.

Ketika menjadi pelatih Pelatnas PBSI di Cipayung, Jakarta Timur, Atik dipercaya menangani sektor ganda putra bersama Christian Hadinata.

Pada masa itu, sektor ganda putra pelatnas diperkuat sejumlah nama, di antaranya Eddy Hartono, Gunawan, Ricky Soebagdja, Rexy Mainaky, Imay Hendra, Bagus Setiadi, Denny Kantono, Antonius Budi Ariantho, Rudy Wijaya, Tony Gunawan, Candra Wijaya, hingga Sigit Budiarto.

Perjalanan panjang Atik di dunia bulutangkis meninggalkan jejak tersendiri, terutama melalui perannya membina para pemain yang kemudian mengharumkan nama Indonesia di berbagai kompetisi.

Related posts